Ayo lawan COVID-19: StayAtHome-Jaga Jarak-Hindari Kerumunan-Pakai Masker-Jaga Kondisi Tubuh dan Tetaplah Berdoa

Senin, 01 November 2021

Sejuta Asa untuk Tondano

(Sebuah puisi, dari negeri Kiniar, 2011)

Tondano... 
Orang bilang kau mati, namun ku masih merasakan denyut nadimu... 

Geliatmu di saat sang mentari masih terlelap... 
irama indah derap langkah kuda menarik bendi... 
aliran tenang air sungai Tondano memberi harapan hidup... 
padi di sawah yang mulai menguning berselimut embun pagi, menebar asa buat perutmu... 
cawa tanda di rumah kopi tanda tiada kuatir di mimikmu... 

Tondano...
Kau masih hidup... 
kau masih nyata 

Lalu... mengapa orang bilang kau mati ? hmmm... 

Mereka punya sejuta asa, mimpi dan khayalan untukmu 

mereka ingin kau melahirkan gedung bertingkat tuk lebih dekat ke langit... 

mereka ingin hiruk pikuk Megamall dan Mantos menjadi milikmu mereka ingin hotel berbintang mesti bintang di langitmu tak tertandingi

Mereka ingin jalanmu sesak dengan robot jalanan yang muntahkan karbon di wajahmu 

mereka ingin kau jangan cepat terlelap di saat gelap malam mulai menyelimuti tubuhmu 

mereka ingin kau seperti adikmu Tomohon, atau saudaramu Manado, atau Jakarta bahkan mungkin Holywood?

hmmm.... 
mereka punya sejuta mimpi tuk poles wajahmu dengan make-up modern, meski cantik alami yang kau miliki tlah membuat kau jadi rebutan ... 

Tondano.... 
Bagiku, 
kau tak perlu menjadi seperti kawan-kawanmu 
Bangunan mewah mereka tlah menghimpit manusia-manusia kecil 
Tembok-tembok beton di kota mereka, sembunyikan derita saudara kita 
Hiruk pikuk kota mereka, halangi jeritan keras kaum marginal... 
Hotel berbintang tlah jadi sorga bagi para jahanam yang mencuri harta rakyat dan menggauli perawan kota 

Deru mesin-mesin berpacu demi rupiah dan muntahkan karbon ke tubuh insan tak ber-rupiah 

Tondano kau harus menjadi dirimu sendiri... Rinduku, kau tetap cantik alami, dengan sedikit sentuhan modern... 

Masih ingin ku dengar lagi merdu irama kuda-bendi dan Om kusir yang ramah 
Masih ingin ku lihat lagi pagi indah di danau, sungai dan sawahmu 

Masih ingin ku rasakan sentuhan romantis dingin khasmu 
Masih ingin ku rasakan sentuhan persaudaraanmu, dan sapaan akrab tanda persahabatan.

Namun, tak ingin kulihat lagi sampah berserakan ibarat jerawat di wajah manismu... 
tak ingin perahuku penyambung hidupku, terhalang eceng gondok... 
tak ingin kubaca berita tawuran hiasi media massa 

Tondano...
Lahirkanlah bagi kami bukan gedung mewah, tapi insan intelek bernurani seperti leluhurmu Opa Sam Ratulangi....

Lahirkanlah bagi dunia, generasi yang berani tapi intelek, kritis dan kreatif 

Darah yang mengalir di tubuhmu biarlah tetap darah pemberani dan pejuang 
Biarlah antibodimu menolak virus pecundang... 

Tumbuhkan insan mudamu jadi tembok kota dengan kerja yang layak 
Biarlah generasimu warisi gen unggul leluhurmu... 

Tondano...
Biarlah kau bertumbuh dengan ciri khas dan budayamu, meskipun kau harus bersahabat dengan globalisasi dan modernisasi... 

Alam dan budayamu, ciri khasmu, identitasmu adalah kuatmu... 
Kawan-kawanmu tak memiliki apa yang kau miliki... 

Tondano, aku, dia, kami bahkan mereka telah lama jatuh cinta padamu 

We still love U, Love U Forever....

 ~~~MYT~~~dalam hening malam berselimut dingin khas Tondano, dari tepian kota mungil Tondano 

Kiniar, 8 Desember 2011