Ayo lawan COVID-19: StayAtHome-Jaga Jarak-Hindari Kerumunan-Pakai Masker-Jaga Kondisi Tubuh dan Tetaplah Berdoa

Rabu, 10 Juni 2020

#SastraMinahasa: "Kelung Kasa Leos Ne Tou Minahasa Witu Lalan Kalewoan ni Corona"


Perisai Terbaik Orang Minahasa dalam Jalan Jahat Si Corona
(Sebuah syair doa dalam Bahasa Tondano oleh seorang yang sedang belajar bahasa leluhur)
ilustrasi: Oleh MYT

Opo Wana Natas,  witu Wale Lenas kareu kasa
(Tuhan Yang Di Atas Sana/surga, di rumah kudus nun jauh sekali)
tembonemi kei wia en kaoatan
(tengoklah kami di dunia ini)
Kei keupusenokeni…
(menyedihkan keadaan kami)
Kei reimo toro maatoan si esa wo si esa 
(kami tak dapat lagi bertemu satu dengan yang lain)
Reimo toro metetiboyan maan se keupus mei 
(tak bisa lagi saling berpegangan tangan dengan kekasih kami)
Kei maatoan nokan wia "kaoatan walina" pa totor ne oki wo taretumou teakan “dunia maya”
(kami hanya bisa bertemu dalam "dunia lain" yang disebut anak-anak dan anak muda jaman sekarang sebagai “dunia maya”)

Kei se tou, mengale-ngale mokan wia Niko... ka'a ni Ko 'te si mangarti nikei
(Kami adalah orang, yang mengelu memohon kepadaMu, karena hanya Engkaulah yang mengerti kami)
Opo Empung, keteuan Nu-mow, kei meide mo waya wia kaoatan teakan
(Tuhan Maha Pengampun, Engkau telah tahu, kami semua takut dalam kekinian dunia)
Susur nendo, se pirala se tou tumayang
(Saban hari, beberapa dari kami manusia, meninggal dunia)
Masuatokan se mengei ma'an se mengea
(Seakan sama mereka yang datang dan pergi)
se minatou maan se kinaapuan asengan, se minate!
(mereka yang lahir/hidup dan mereka yang kehabisan napas. Mati!)
Nitu waya pasiwon ni si kasa kasa rintek lewo, mekengaran Corona!
(Itu semua karena perbuatan si mahluk sangat kecil yang bernama: Corona)

Oh Opo Empung Wana Natas, kei teakan tanumokan winean Nu mi katulah, ka‘a kelakere' kasa kaselokan nei nu tou... 
(Oh Tuhan Maha Pengasih di Surga, kami sekarang seperti Engkau berikan tulah/kutukan/hukuman, karena demikian besar kesalahan/dosa kami)
Niitumow, ampungan Nu temi  em baya kaselokan nei 
(Karenanya, ampunilah kami akan segala kesalahan/dosa kami)

Opo Empung, weanitemi kei nu waya
(Tuhan, berikanlah kami semua)
Kekelung! kelung kasa leos wia kalewoan ni Corona 
(perisai/pelindung! pelindung terbaik dalam kejahatan si Corona)
Kelung kelungen waya se Tou wia Tana'  niein 
(Lindungi selalu setiap orang di tanah ini)
maan kei maweu tana, wo meketawimola mareng sumeup witu tana' Mu
(meskipun kami berbau tanah, dan makin dekat pulang kembali ke “tanah-Mu”)

Kelung-kelungeni kei Opo Empung!!! 
(Lindung-lindungi kami Tuhan)
Kei mow se tinamberan-Numi tana leos niein, 
(Kamilah orang yang kau anugerahkan tanah yang baik ini)
en tana' nei patik ne 'tua, wo patotormeila teakan: Minahasa! 
(tanah yang dinamakan oleh para tetua, yang kami sebut sekarang: MINAHASA!)
Paloonemi kei nu makatana, makawale wo pa'ar mewewangun walemei: Minahasa!
(Lihatlah kami yang empunya tanah, pemilik rumah yang ingin membangun rumah kami: 
Minahasa!)
kei pa'ar mewewangun wale oki mei: nate maan nutek! en pepepaken mewewangun wanua wangko: Minahasa! 
(kami ingin membangun rumah kecil kami: hati dan pikiran! yang akan dipakai membangun kampung besar: Minahasa)

Oh Opo Empung....
(Oh Tuhan)
Palusani kei ma'an en kamangMu, palusani! laker-lakeren! kamang-kamangen! kei nu tou, se mepepalus kaleosan... 
(Curahkanlah kami dengan berkatmu. Curahkanlah! Berilah banyak! Berkati selalu! kami manusia yang akan saling mencurahkan kebaikan)
Sapa em palusMu-mi ni'itu mou palusmeila wia se karia wo se patuari, se kasa paaar, se malelo en kamang-Mu .... 
(Apapun yang engkau curahkan, itulah yang akan kami curahkan kepada sobat dan saudara, yang merindu berkatMu)
Sa kei pepalusan-Nu-mi terus.... (Jika kami Engkau curahkan terus (berkat))
Maan kei pedis, kasa pedis, ka kei pasiasan ni lewo, kasa rintek, Corona,
(Sekalipun kami susah, sangat susah! karena kami dihajar oleh si jahat, maha kecil, Corona)
kei tetapte mepepalusan wo tumou se tou walina....
(kami tetaplah saling mencurahkan dan menghidupkan orang lain)
kei susur nendo tumou tou wo mapatik, wo mawale wia tana' mei, wanua wangko: Minahasa! 
(kami tiap hari akan saling menghidupkan dan menulis serta membangun rumah dan tanah kami; Minahasa!)
Tanumou nei Patik Mu'la witu ketarean waki se tu'a
(seperti yang telah Engkau Firmankan pada permulaan kepada leluhur kami)

Opo Wana Natas, linganitemi kei nu waya.
(Tuhan Yang Di Surga, dengarkanlah kiranya kami semua)
Kei ma-Opo ni Ko, ka 'ni Ko 'te si Opo Empung 
(Kami menyembahmu karena hanya engkaulah Tuhan)
Si Mawe Kekelung wia se tou maana witu wale wangko: Minahasa!
(Yang memberi perlindungan bagi setiap orang, yang tinggal di rumah besar: Minahasa)
witu kareideman lalan kalewoan ni Corona....
(Dalam kelam jalan jahat si Corona)
Patuari waya, pakatu'an pakalawiren kita nu waya
(Saudara sekalian, umur panjang dan diberkati kita semua)
Meimow kita tumotor mewali-wali:
(Marilah kita bersama ucapkan:)
Nulit!
(Amin)

Meidy Yafeth Tinangon,_ditulis saat sementara menyimak diskusi online: Merindu Minahasa Lewat Sastra10 Juni 2020, yang digelar: media online Minahasa www.kelung.com, Mawale Cultural Movement, Komunitas Penulis Muda Mapatik Minahasa, Institut Seni Budaya Minahasa (SeBuMi) dan jaringan Minahasa lainnya. 

Salam bae…

***) Sekiranya ada kesalahan penuturan dan penulisan, mohon dimaafkan dan silahkan dikoreksi di kolom komentar. 

Tarumakase laker, makapulu sa'ma

Jumat, 29 Mei 2020

[Seri Rangsangan Berpikir Visi Minahasa Baru -1-] MODERNISASI MINAHASA


"|| Minahasa baru yang modern, seperti apa? ||"

Modernisasi ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)  yang terus beregenerasi. Bicara penguasaan IPTEK berarti berhubungan dengan faktor sumber daya manusia (human resourches). Modernisasi, juga mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, sehingga kita akan berhubungan dengan kesehatan yang modern, transportasi yang modern, komunikasi yang modern, pertanian yang modern, perikanan yang modern, pendidikan yang modern hingga pasar dan terminal yang modern. Pokoknya, semua harus modern!

Namun demikian, modernisasi harus juga memperhatikan asas manfaat dan ketepatgunaan (efektifitas), bahkan juga harus bersahabat dengan lingkungan dan bergandengan dengan potensi kearifan lokal (local wisdom).

Pertanyaannya, Minahasa baru yang modern  seperti apa yang hendak diwujudkan? Apa indikatornya?

Sekali lagi, modernisasi bukan berarti ikut-ikutan, tetapi sesuai kebutuhan dan kemampuan. Modernisasi yang gagal bisa mengarah pada pemborosan dan gagah-gagahan. Banyak contoh modernisasi yang gagal. Sebagai contoh, pengalaman gagalnya misi modernisasi pengelolaan lingkungan danau Tondano  dalam tragedi “gagal operasi” dari kapal pengangkat eceng gondok beberapa tahun yang lalu. Biaya besar dikeluarkan namun akhirnya tak bernilai guna yang sebanding.

Menurut hemat penulis, beberapa hal yang penting dalam konteks modernisasi di Minahasa adalah:
  • pertama, perlu ada kajian secara mendalam tentang modernisasi di Minahasa. Aplikasi IPTEK harus dipertimbangkan segala dampak yang bakal mengikutinya. Harus benar-benar teruji dan sesuai dengan konteks daerah kita. 
  • kedua, program sistemik-terencana untuk menyekolahkan SDM (sumekolah) yang menguasai perkembangan IPTEK. Perlu ada pemetaan SDM kita dan penguasaan IPTEK dalam bidang-bidang tertentu, kemudian proyeksi kebutuhan SDM yang menguasai IPTEK kedepannya, agar supaya ketersediaan SDM akan berkelanjutan. 
  • ketiga, perlu ada kajian dan rencana pengembangan dengan “perkawinan” modernisasi dan kearifan lokal tou Minahasa. Bagaimana caranya agar kearifan lokal tak hilang dengan modernisasi melainkan melahirkan inovasi kolaborasi lokalitas dengan modernitas. 
  • keempat, perlunya merumuskan pengembangan modernisasi yang dimulai dari Minahasa (modernisasi ala Minahasa), dengan pengembangan kearifan lokal  dan kreativitas lokal dalam melahirkan aplikasi IPTEK yang baru.
Sebagaimana topiknya, hanya rangsangan berpikir. Marilah yang terangsang untuk sama-sama berpikir. Minahasa adalah apa yang tou Minahasa pikirkan. Sei reen, sei pe' tare' sa rei nikita. Tou Minahasa!


by. www.minahasa.xyz

Kamis, 28 Mei 2020

Kebudayaan Minahasa dan Kaum Mudanya

| "Kawasaran Warior" || from: pinterest.com | 

“Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; 
Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa.” 
(Dr. Sam Ratulangi: Harian Fikiran - 31 Mei 1930).


  • Budaya dan Kebudayaan

Menurut Wikipedia Indonesia, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Edward Burnett Tylor, menyebut bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat (Wikipedia, Indonesia)

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

  • alat-alat teknologi
  • sistem ekonomi
  • keluarga
  • kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

  • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
  • organisasi ekonomi
  • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
  • organisasi kekuatan (politik)

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

- Gagasan (wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

- Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

- Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.


  • Budaya Minahasa: “Keunggulan yang Termarjinalisasi”

Tou (orang/manusia) Minahasa memiliki berbagai budaya yang menurut hemat penulis, dapat menjadi suatu kekuatan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan, baik kebudayaan dalam wujud ideal/gagasan, aktivitas maupun artefak.
Beberapa diantaranya dapat diinventarisir menurut wujudnya:

  • Gagasan (wujud ideal): kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, yang bisa ditemukan dalam tulisan-tulisan. Contoh: tulisan-tulisan Om Sam Ratulangi dan tokoh-tokoh Minahasa lainnya,  Tulisan-tulisan yang ditemukan di batu/prasasti dan kliping media cetak.
  • Aktivitas: sistem sosial orang Minahasa yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Misalnya sistem sosial Mapalus, prinsip hidup “tumou tou”, masawang-sawangan, malinga-lingaan, matombo-tombolan, maleo-leosan, sistem demokrasi (pemilihan hukum tua), sistem family dan organisasi sosial, adat istiadat pernikahan, kematian, pengucapan syukur, sistem pertanian dan sistem kebudayaan lainnya. 
  • Artefak: karya manusia minahasa seperti waruga, lukisan-lukisan, kerajinan dari batu, tarian maengket, kuliner khas Minahasa dan lain sebagainya.


Kekayaan budaya tersebut diyakini merupakan penanda identitas atau jatidiri orang Minahasa yang membuat dia unggul dengan mempertahankan jatidiri / identitasnya. Sebagaimana ungkapan Oom Sam Ratulangi:

“Setiap bangsa yang ingin mempertahankan jati dirinya, harus menghargai warisan suci tradisi dan budaya dari para leluhurnya; Kita (bangsa Minahasa) harus memelihara dan mempertahankan tradisi dan budaya bangsa Minahasa dengan segenap kemampuan dan semangat, karena semangat itu sendiri tidak lain mengandung tradisi dan budaya Minahasa.” (Dr. Sam Ratulangi: Fikiran - 31 Mei 1930)

Problematika Kaum Muda dan Budaya Kekinian Taretumou Minahasa

Bicara budaya, tidak hanya terikat pada persoalan ide, aktivitas atau artefak kebudayaan “tempoe doeloe”.  Namun, yang tak kalah pentingnya adalah budaya dalam konteks kekinian. Dalam relevansinya dengan budaya kaum muda masa kini.

Cakupan kebudayaan yang begitu luas sebagaimana tercermin dalam wujud kebudayaan seperti dijelaskan di atas, mengantar kita pada kesimpulan bahwa bicara budaya memiliki hubungan dengan segala aspek kehidupan termasuk problematikanya. Budaya dapat hadir dalam wujud yang baik maupun kurang baik. Budaya juga akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam formasi budaya yang baik/positif tentu saja akan memberi pengaruh positif, demikian juga sebaliknya, budaya yang kurang baik akan bermuara pada problematika atau ketidakmampuan keluar dari problema kehidupan.

Lebih jauh lagi, penulis berpendapat bahwa budaya merupakan akar masalah dari berbagai fenomena / gejala persoalan kepemudaan. Mari kita meninjau ulang situasi kekinian kaum muda atau taretumou di Minahasa dalam perspektif problematika dan budayanya dalam 3 wujud kebudayaan: ide/gagasan, aktivitas dan artefak.

a. Ide
Ide atau gagasan para pendahulu negeri sangat penting bagi kita untuk mengetahui tentang budaya Minahasa ataupun berbagai filosofi hidup orang Minahasa. Banyak gagasan yang terdokumentasi dalam buku seperti: “Baku Beking Pande” karya HN Sumual, “Si Tou Timou, Tumou Tou”, AJ Sondakh dll. Pertanyaannya apakah kita kaum muda Minahasa cukup familiar dengan buku-buku tersebut ataukah telah menjadi budaya kaum muda untuk lebih senang membaca karya-karya barat atau karya – karya fiksi seperti cerpen  yang cenderung lebih ringan ? Kalau alasannya karena tingkat keringanan bahan bacaan maka benarlah dugaan bahwa kita telah terjebak dalam budaya pragmatis dan malas berpikir. Kondisi ini mengantar kita pada miskinnya ide-ide baru yang muncul dalam diri anak muda Minahasa. Hal mana tergambar dari miskinnya karya artikel di media massa lokal yang ditulis oleh pemuda Minahasa. Padahal kebiasaan mengkomunikasikan ide adalah kultur orang Minahasa yang “ngaasan” seperti dinampakan oleh seorang Sam Ratulangi yang cerdas berpikir dan mengkomunikasikan pikirannya secara lisan dan tulisan.

b. Aktivitas / Perilaku
- Perilaku yang dominan bagi kaum muda Minahasa dewasa ini adalah apa yang dikenal sebagai budaya instan atau “cari gampang”. Nemau bersusah-susah. Sekolah .... maunya yang gampang...., kerja, maunya yang gampang..... dll. Padahal zaman sekarang tidak ada yang gampang, harus kerja keras dan dibarengi kesabaran, itulah perjuangan. Budaya Minahasa adalah budaya pejuang, rela berkorban. Untuk mendapatkan sesuatu harus bekerja keras.
- Di dunia kerja, kaum muda sering nampak “pilih-pilih pekerjaaan”. Menariknya budaya “pilih-pilih kerja” ini hadir disaat torang susah mo dapa kerja, karena kesempatan dan pilihan kerja terbatas. Kecenderungan utama, kaum muda ingin kerja kantoran, PNS... padahal kesempatan untuk jadi PNS semakin berkurang. Kita harus punya keyakinan bahwa jika kita memiliki kemampuan berkreasi, kita tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan, karena pekerjaan itu telah kita ciptakan sendiri.
- Budaya lainnya yang cukup dominan adalah Budaya materialisme yang melahirkan generasi-generasi yang gampang dibeli / mau dibeli. Budaya individualisme, yang bertentangan  dengan budaya Mapalus yang memiliki substansi komunal dan kerja sama sebagaimana dikenal Tou Minahasa. Gejala lainnya adalah aktivitas berbahasa.

c. Artefak
- Penghargaan terhadap karya seni leluhur. Sebagian kaum muda Minahasa, tidak mau bergaul dengan seni-budaya tradisional karena tak mau dibilang kolot.  Padahal disamping sebagai penghargaan terhadap kreasi seni, dari lagu dan tarian kita bisa belajar banyak hal.

Saatnya, kini kaum milenial Minahasa yang akan menjadi penerus identitas kultural, memberikan perhatian pada aspek-aspek kebudayaan Minahasa ditengah arus kuat kebudayaan asing.

"I yajat u leos wia lalan kalewoan"

salam, Meidy Y. Tinangon

*) Konten ini merupakan bagian dari materi yang disampaikan dalam session diskusi "Kampung Budaya" Perkemahan Pemuda GMIM di wilayah Remboken.


Imperialisme Baru, Tantangan Tou Minahasa

Minahasa, over ons - Kingsdish.nl
| "Kawasaran" ||  from: kingsdish.nl | 



Bangsa Minahasa kita kenal memiliki budaya dan kearifan luhur dan unggul yang berwujud nilai kebersamaan dan kemanusiaan (mapalus,Tumou-tou, masawang-sawangan, maesaan, matombol-tombolan), kerja keras (tumani, mawale), keberanian dan sikap pejuang, manusia cerdas dan kreatif (tou ngaasan), demokratis (kesetaraan dan memilih langsung hukum tua), manusia yang kaya nilai luhur dalam tradisi di masing-masing wanua  serta berbagai hasil karya dan karsa manusia Minahasa lainnya.

Budaya Minahasa tersebut, sebenarnya menjadi kekuatan kita. Tetapi, jika kita menelisik jauh ke dalam sendi kehidupan Tou Minahasa, kita akan menemukan karakter-karakter yang kontras yang kemudian sangat dominan dalam keminahasaan masa kini.

Sebut saja, sikap individualisme yang kontras dengan semangat mapalus dan tumou-tou,  budaya ‘instant’, cari gampang, budaya shortcut atau jalan pintas yang kontras dengan nilai-nilai kerja keras dan sikap sebagai bangsa pejuang. Baku cungkel yang kontras dengan tradisi matombol-tombolan.

Sikap nrimo, ABS (Asal Bapak Senang), tidak kritis, yang sangat beda dengan karkater para pendahulu bangsa Minahasa yang sangat kritis dan cerdas, dan karena itu posisi bergaining orang Minahasa menjadi sangat kuat.

Darimana asalnya perubahan budaya dalam komunitas Minahasa tersebut ? 

Sumbernya adalah berbagai model imperialisme yang dimediasi oleh berbagai faktor diantaranya: media (imperialisme informasi), kemajuan bidang teknologi informasi (imperialisme virtual/digital), pengaruh salah didik (imperialisme pedagogik), imperialisme melalui buku dan bahan bacaan lainnya (imperialisme literasi) dan bentuk-bentuk imperialisme lainnya yang mempengaruhi budaya kita.

Kita menghadapi imperialisme atau penjajahan baru yang membonceng globalisasi. Dalam situasi kekinian global, imperialisme tidak hanya berwujud penjajahan dan perang sebagaimana pernah kita alami sebelum proklamasi kemerdekaan, dimana terjadi upaya penguasaan teritori tertentu. Imperialisme baru tersebut hadir dalam berbagai wujud dan penyamaran.

Menariknya, imperialisme tersebut meng-ada dalam situasi sosial yang lagi asyik meneguk madu modernitas, kesenangan dan euforia terhadap produk teknologi dan tayangan media, anak-anak globalisasi. Bangsa kita dalam keasyikannya menikmati kemajuan peradaban tersebut, tanpa sadar telah terkungkung dalam penjajahan zaman yang hadir dalam berbagai wujud. Minahasa sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, tanpa sadar sedang dijajah.

"Teritori identitas" Indonesia kabur atau bahkan dapat disebut kehilangan identitas, akibat instalasi budaya asing yang terus melakukan degradasi dan regresi kultur bangsa.

Proses degradasi dan regresi yang terjadi, sejak masuknya budaya asing seiring datangnya bangsa-bangsa asing untuk tinggal menetap di Bumi Nusantara yang merupakan suatu hal yang tak dapat kita hindari di era global yang meruntuhkan batas dan sekat antar bangsa.

Kemajuan teknologi informasi dewasa ini, disatu sisi merupakan hal yang positif, namun disisi lain menjadi musuh dalam selimut.

Apa dampaknya?

Indonesia, khususnya Minahasa yang kita kenal memiliki kekayaan budaya, kearifan-kearifan luhur dan unggul yang berwujud nilai kebersamaan dan kemanusiaan yang sebenarnya menjadi kekuatan kita. Tetapi, jika kita menelisik jauh ke dalam sendi kehidupan berbangsa, kita akan menemukan karakter-karakter yang kontras yang kemudian sangat dominan dalam keminahasaan dan ke-Indonesiaan masa kini, seperti telah disebutkan di atas.

Kini saatnya kita bersama sebagai satu bangsa harus bersatu melawan musuh bersama berwujud arus kuat informasi dan teknologi. Musuh bersama yang tak harus kita tolak atau serang dengan kekuatan angkatan bersenjata. Melainkan musuh bersama yang harus dilawan dengan senjata kebijaksanaan.

Salah satu strategi perlawanan kita adalah membangun Cultural filter sambil memperkuat  kearifan lokal.  Generasi muda bangsa, para kaum milenial harus menguasai teknologi, menyerap berbagai perkembangan yang ditransmisikan melalui berbagai arus informasi digital, namun juga harus dibina karakternya sehingga tetap menjadi manusia-manusia Indonesia yang bukan manusia individualis dan cari gampang tetapi manusia melek teknologi yang tetap memiliki karakter kebersamaan dan kepedulian serta mau bekerja keras. Jika tidak, maka generasi penerus bangsa akan bertransformasi menjadi manusia-manusia robot yang jauh dari kepedulian akan sesama. Jauh dari sikap saling membantu dan menjadi manusia yang miskin kerja keras.

Mari bersama lawan imperialisme zaman! atau kultur humanisme kita akan tergilas imperialisme baru di zaman digital.

====
Catatan oleh: Meidy Tinangon

*) Sebagian isi konten ini pernah dimuat dalam bentuk lain di media warga "Bukan Hanya Pandemi, Ini Musuh Lainnya Bangsa Kita! Lawan!

Kamis, 01 November 2018

Torang Pe CALEG di MINAHASA

 Mo cari tahu siapa-siapa torang pe saudara, sobat, kenalan yang ba calon for mo jadi anggota dewan di kabupaten Minahasa ?

Klik jo: 
🔻🔻🔻
➥ DCT DPRD MINAHASA



Selasa, 23 Oktober 2018

SEJARAH DEMOKRASI DI TANAH MINAHASA

Sebuah Sketsa Awal
Meidy Yafeth Tinangon
(Rangkuman dari berbagai sumber)

Kelompok terkecil (rumah tangga) dalam masyarakat kuno Minahasa disebut awu. Jika karena perkawinan terbentuk beberapa kelompok awu (keluarga besar), maka mereka disebut taranak. Dan bila sesudah perkawinan antartaranak terbentuk taranak-taranak baru yang berdiam dalam satu wilayah tertentu, tempat itu disebut roong atau wanua. Pemimpinnya disebut ukungRoong yang berkembang menjadi beberapa roong disebut walak.  

Belakangan timbul istilah pakasaan yang juga mempunyai arti teritorial. Seperti halnya taranak dan roong, maka walak dan pakasaan adalah suatu mayarakat hukum. Terlihat pada pemilikan tanah yang disebut tanah pakasaan yang sampai akhir abad XIX masih dijumpai di Manado dan Amurang.

Struktur masyarakat awal terbentuk dalam 3 kelompok:
1.     Makarua-siow (golongan 2 x 9, adalah golongan pemerintah dan pembesar negeri). Menurut Dr. Riedel mereka adalah turunan pertama Lumimuut dan Toar.
2.     Makatelu-pitu (golongan 3 x 7, merupakan kelompok pemimpin keagamaan walian dan tonaas). Menurut Dr. Riedel mereka adalah turunan kedua Lumimuut dan Toar.
3.     Pasiowan-telu (atau orang kebanyakan, adalah petani, pekerja dan kemudian waraney atau prajurit).

Struktur tertinggi adalah lembaga musyawarah: PAESAAN INDEKEN semacam “Lembaga Permusyawaratan” yang dihadiri seluruh awu. Sekalipun bersifat musyawarah, faktor dominan masih pada sang ukung. Otoriterisme tetap berkemungkinan. Akan tetapi bila sang ukung melanggar ketentuan adat atau merugikan masyarakat, para awu dengan segala daya dan kekuatan akan menjatuhkan kekuasaan sang pemimpin

DEWAN WALI PAKASAAN oleh Belanda disebut Raad der Dorpshofden, terdiri dari tokoh-tokoh pakasaan atau masyarakat adat, utusan tersebut DIPILIH dengan kriteria: ente (kuat), wuaya (berani), dan siga (bijaksana). Sesuai pengamatan Pastor Blas Palomino, orang minahasa adalah masyarakat DEMOKRATIS dengan karakter esa ene: mahesa-esaan witu umbangun, esa ne laker esa ne pelen. Seiya, satu hati, dan satu tindak. Kehendak mayoritas adalah kehendak semua. Pejabat-pejabat Kompeni awalnya menilai Minahasa sebagai suatu Republik merdeka.

DEMOKRASI ELEKTORAL
Jauh sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, kultur, struktur dan praktek demokrasi telah ada di tanah Minahasa.