Ayo lawan COVID-19: StayAtHome-Jaga Jarak-Hindari Kerumunan-Pakai Masker-Jaga Kondisi Tubuh dan Tetaplah Berdoa
Tampilkan postingan dengan label doa bahasa tondano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa bahasa tondano. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2020

#SastraMinahasa: "Kelung Kasa Leos Ne Tou Minahasa Witu Lalan Kalewoan ni Corona"


Perisai Terbaik Orang Minahasa dalam Jalan Jahat Si Corona
(Sebuah syair doa dalam Bahasa Tondano oleh seorang yang sedang belajar bahasa leluhur)
ilustrasi: Oleh MYT

Opo Wana Natas,  witu Wale Lenas kareu kasa
(Tuhan Yang Di Atas Sana/surga, di rumah kudus nun jauh sekali)
tembonemi kei wia en kaoatan
(tengoklah kami di dunia ini)
Kei keupusenokeni…
(menyedihkan keadaan kami)
Kei reimo toro maatoan si esa wo si esa 
(kami tak dapat lagi bertemu satu dengan yang lain)
Reimo toro metetiboyan maan se keupus mei 
(tak bisa lagi saling berpegangan tangan dengan kekasih kami)
Kei maatoan nokan wia "kaoatan walina" pa totor ne oki wo taretumou teakan “dunia maya”
(kami hanya bisa bertemu dalam "dunia lain" yang disebut anak-anak dan anak muda jaman sekarang sebagai “dunia maya”)

Kei se tou, mengale-ngale mokan wia Niko... ka'a ni Ko 'te si mangarti nikei
(Kami adalah orang, yang mengelu memohon kepadaMu, karena hanya Engkaulah yang mengerti kami)
Opo Empung, keteuan Nu-mow, kei meide mo waya wia kaoatan teakan
(Tuhan Maha Pengampun, Engkau telah tahu, kami semua takut dalam kekinian dunia)
Susur nendo, se pirala se tou tumayang
(Saban hari, beberapa dari kami manusia, meninggal dunia)
Masuatokan se mengei ma'an se mengea
(Seakan sama mereka yang datang dan pergi)
se minatou maan se kinaapuan asengan, se minate!
(mereka yang lahir/hidup dan mereka yang kehabisan napas. Mati!)
Nitu waya pasiwon ni si kasa kasa rintek lewo, mekengaran Corona!
(Itu semua karena perbuatan si mahluk sangat kecil yang bernama: Corona)

Oh Opo Empung Wana Natas, kei teakan tanumokan winean Nu mi katulah, ka‘a kelakere' kasa kaselokan nei nu tou... 
(Oh Tuhan Maha Pengasih di Surga, kami sekarang seperti Engkau berikan tulah/kutukan/hukuman, karena demikian besar kesalahan/dosa kami)
Niitumow, ampungan Nu temi  em baya kaselokan nei 
(Karenanya, ampunilah kami akan segala kesalahan/dosa kami)

Opo Empung, weanitemi kei nu waya
(Tuhan, berikanlah kami semua)
Kekelung! kelung kasa leos wia kalewoan ni Corona 
(perisai/pelindung! pelindung terbaik dalam kejahatan si Corona)
Kelung kelungen waya se Tou wia Tana'  niein 
(Lindungi selalu setiap orang di tanah ini)
maan kei maweu tana, wo meketawimola mareng sumeup witu tana' Mu
(meskipun kami berbau tanah, dan makin dekat pulang kembali ke “tanah-Mu”)

Kelung-kelungeni kei Opo Empung!!! 
(Lindung-lindungi kami Tuhan)
Kei mow se tinamberan-Numi tana leos niein, 
(Kamilah orang yang kau anugerahkan tanah yang baik ini)
en tana' nei patik ne 'tua, wo patotormeila teakan: Minahasa! 
(tanah yang dinamakan oleh para tetua, yang kami sebut sekarang: MINAHASA!)
Paloonemi kei nu makatana, makawale wo pa'ar mewewangun walemei: Minahasa!
(Lihatlah kami yang empunya tanah, pemilik rumah yang ingin membangun rumah kami: 
Minahasa!)
kei pa'ar mewewangun wale oki mei: nate maan nutek! en pepepaken mewewangun wanua wangko: Minahasa! 
(kami ingin membangun rumah kecil kami: hati dan pikiran! yang akan dipakai membangun kampung besar: Minahasa)

Oh Opo Empung....
(Oh Tuhan)
Palusani kei ma'an en kamangMu, palusani! laker-lakeren! kamang-kamangen! kei nu tou, se mepepalus kaleosan... 
(Curahkanlah kami dengan berkatmu. Curahkanlah! Berilah banyak! Berkati selalu! kami manusia yang akan saling mencurahkan kebaikan)
Sapa em palusMu-mi ni'itu mou palusmeila wia se karia wo se patuari, se kasa paaar, se malelo en kamang-Mu .... 
(Apapun yang engkau curahkan, itulah yang akan kami curahkan kepada sobat dan saudara, yang merindu berkatMu)
Sa kei pepalusan-Nu-mi terus.... (Jika kami Engkau curahkan terus (berkat))
Maan kei pedis, kasa pedis, ka kei pasiasan ni lewo, kasa rintek, Corona,
(Sekalipun kami susah, sangat susah! karena kami dihajar oleh si jahat, maha kecil, Corona)
kei tetapte mepepalusan wo tumou se tou walina....
(kami tetaplah saling mencurahkan dan menghidupkan orang lain)
kei susur nendo tumou tou wo mapatik, wo mawale wia tana' mei, wanua wangko: Minahasa! 
(kami tiap hari akan saling menghidupkan dan menulis serta membangun rumah dan tanah kami; Minahasa!)
Tanumou nei Patik Mu'la witu ketarean waki se tu'a
(seperti yang telah Engkau Firmankan pada permulaan kepada leluhur kami)

Opo Wana Natas, linganitemi kei nu waya.
(Tuhan Yang Di Surga, dengarkanlah kiranya kami semua)
Kei ma-Opo ni Ko, ka 'ni Ko 'te si Opo Empung 
(Kami menyembahmu karena hanya engkaulah Tuhan)
Si Mawe Kekelung wia se tou maana witu wale wangko: Minahasa!
(Yang memberi perlindungan bagi setiap orang, yang tinggal di rumah besar: Minahasa)
witu kareideman lalan kalewoan ni Corona....
(Dalam kelam jalan jahat si Corona)
Patuari waya, pakatu'an pakalawiren kita nu waya
(Saudara sekalian, umur panjang dan diberkati kita semua)
Meimow kita tumotor mewali-wali:
(Marilah kita bersama ucapkan:)
Nulit!
(Amin)

Meidy Yafeth Tinangon,_ditulis saat sementara menyimak diskusi online: Merindu Minahasa Lewat Sastra10 Juni 2020, yang digelar: media online Minahasa www.kelung.com, Mawale Cultural Movement, Komunitas Penulis Muda Mapatik Minahasa, Institut Seni Budaya Minahasa (SeBuMi) dan jaringan Minahasa lainnya. 

Salam bae…

***) Sekiranya ada kesalahan penuturan dan penulisan, mohon dimaafkan dan silahkan dikoreksi di kolom komentar. 

Tarumakase laker, makapulu sa'ma